Selamat Datang di LINTAU : Nagari yang Dokek di Jaghi

Lintau merupakan sebuah daerah di Kab. Tanah Datar yang terdiri atas dua Kecamatan, yaitu : 1. Kec. Lintau Buo Utara, terdiri atas 5 nagari, yaitu Nagari Batu Bulek, Tanjuang Bonai, Balai Tongah, Topi Selo dan Nagari Lubuak Jantan. 2. Kec. Lintau Buo, terdiri atas 4 nagari, yaitu Nagari Buo, Pangian, Tigo Jangko dan Toluak. Terletak pada ketinggian antara 200 hingga 400 m di atas permukaan laut. Curah hujan di wilayah kecamatan ini rata-rata 172,06 mm3 per tahun dan merupakan daerah bayang-bayang hujan
Website : www.lintau.info | email : info@lintau.info | Kamus Lintau : kamus.lintau.info

Sutan Hasyim Tuanku Tinggi

Penghoeloe Kapala – in het Lintonsche.Secara tidak sengaja, saat klik sana klik sini di dunia maya, kami dikejutkan oleh adanya gambar di atas dari Tropen Museum di Leiden. Di sana tertulis bahwa gambar ini adalah gambar sebuah mesjid di Lintau. Takjub dan senang dengan adanya gambar foto lama yang masih disimpan oleh pihak museum Belanda, sebagai pengetahuan buat kita akan ketinggian seni arsitektur masa silam yang sangat piawai dalam membentuk bangunan rumah adat.
Sepintas kita lihat seperti bentuk sebuah roket yang siap luncur ke angkasa dihiasi oleh tanduk-tanduk rumah gadang seperti lazimnya rumah gadang di Minangkabau. Adanya sebuah rangkiang di sebelah kanan tampaknya membuat kita berpikir bahwa bangunan ini bukanlah sebuah mesjid, karena rangkiang berfungsi sebagai tempat penyimpanan padi bagi pemilik rumah gadang ini. Sangat tidak lazim di Minangkabau sebuah mesjid atau surau memiliki rangkian yang ditempatkan di sampingnya.
Mungkin kita berpikir bahwa gambar ini adalah gambar sebuah mesjid karena anjung tinggi yang menyerupai kubah atau menara mesjid ditempatkan pada lantai atas rumah adat ini. Yakinlah bahwa anjung tersebut merupakan symbol dari pepatah adat yang berbunyi: “adat basandi syara’ – syara’ basandi kitabullah”. Anjung atap yang menyerupai kubah atau menara mesjid ini juga akan banyak kita temui pada rumah-rumah adat di daerah Solok, namun di sana penempatan anjung atap yang serupa ini ditempatkan pada atap beranda rumah adat.
Yang perlu kita sampaikan di sini bahwa rumah adat seperti ini hanya ada satu di Lintau. Pemilik rumah adat ini adalah seorang bangsawan tinggi Minangkabau, putera dari seorang Rajo Adat di Buo, sebagaimana disampaikan oleh salah seorang anak cucunya Bapak Fakhrudin Datuek Palindih, salah seorang tungganai di Tepi Selo. Hal senada juga dinyatakan oleh Bapak Azhar B, salah seorang cicit dari Sutan Hasyim Tuanku, di mana beliau mengaku pernah masuk ke dalam rumah ini pada era tahun 1960-an, bahkan bermain-main di anjung yang paling tinggi bersama-sama kakaknya.
Konfirmasi dari anak cucunya di Tepi Selo sudah cukup membuktikan bahwa rumah adat ini bukanlah bangunan sebuah mesjid, namun adalah bangunan rumah adat yang bercirikan pepatah “adat basandi syara’ – syara’ basandi kitabullah”. Jika kita teliti lebih lanjut, pada bagian sebelah kiri depan tampak garasi bendi bugih milik Sutan Hasyim Tuanku Tinggi, yang ditarik dengan kudo bagonto saat Sutan Hasyim Tuanku Tinggi menunaikan tugasnya sebagai Penghoeloe Kapala – in het Lintonsche dalam rangka melakukan inspeksi ke nagari-nagari yang berada di Lintau.
Saat sekarang ini tak banyak lagi orang mengetahui tentang sejarah Sutan Hasyim Tuanku Tinggi, walaupun namanya cukup banyak disebut dan dilaporkan oleh para pejabat sipil maupun militer yang pernah ditugaskan di Lintau atau Sumatera Barat. Dalam keterangan yang diberikan oleh anak cucunya, Sutan Hasyim Tuanku Tinggi hanya dijelaskan sebagai anak Rajo Adat di Buo, yang menetap di Kampung Rajo. Sebagai anak nagari Tepi Selo, Sutan Hasyim Tuanku Tinggi berasal dari pesukuan Kuti Anyie di Tepi Selo, Kecamatan Lintau Buo Utara, Kabupaten Tanah Datar. Namun siapa dan bagaimana catatan kecil tentang Sutan Hasyim Tuanku Tinggi ini, mari sama-sama kita telusuri, malala-malala awak, dengan keterangan masa silam baik dari catatan yang ditinggalkan oleh Belanda maupun sejarah lisan dari para anggota keluarganya yang masih tersisa atau mungkin sempat tercecer dalam catatan singkat yang belum dipublikasikan.
Berdasarkan penjelasan yang disampaikan oleh almarhum Haji Sabran Pahlawan Garang, salah seorang pewaris Kerajaan Adat di Buo, konon kabarnya saat Sutan Hasyim dilahirkan, ibunya Puti Fathimah Tuan Aciek Gadih Hitam wafat sesaat setelah persalinannya. Ayahnya adalah Rajo Adat Buo yang terakhir yaitu Nan Dipertuan Sembahyang Sultan Abdul Jalil Lukmanul Hakim Muningsyah.
Sebagai bayi piatu yang lahir tanpa mengenal ibunya, Sutan Hasyim dibawa ke Buo oleh ayahnya untuk dipelihara oleh neneknya Tuan Gadih Puti Reno Sari Alam, ibusuri Rajo Adat di Buo. Tuan Gadih Puti Reno Sari Alam adalah isteri dari Raja Adat di Buo yang terhadulu Nan Dipertuan Bakumih Sultan Abdul Jalil Shalahuddin Muningsyah. Iba melihat nasib cucunya yang piatu, Tuan Gadih kemudian mencarikan ibu susuan buat Sutan Hasyim dan mendapatkan seorang wanita dari pesukuan Caniago di Buo yang tidak diketahui lagi siapa namanya.
Sebagai upah untuk menyusukan Sutan Hasyim ini, keluarga dari pesukuan Caniago ini diberikan hadiah beberapa bidang sawah yang disebut Sawah Kubang Gajah yang berada di Barat, tidak jauh dari tapal batas antara Buo dengan Lubuk Jantan. Kelak setelah dewasa, Sutan Hasyim menikah dengan Reno Hilir, anak dari Gonti Omeh adik perempuan ibu susuannya di Buo, sehingga menimbulkan sedikit konflik adat di dalam nagari dengan sebab perkawinan jo dunsanak dari ibu susuan yang saat itu dilarang oleh adat yang berlaku.
Tidak ada catatan yang jelas tentang kapan kelahiran Sutan Hasyim ini. Hanya saja di dapat dari beberapa keterangan jika Sutan Hasyim wafat di awal abad 20, setelah perang belasting tahun 1908. Ia wafat di Tepi Selo dalam usia 85 tahun dan dimakamkan di Tepi Selo, tidak jauh dari Simpang Labueh Lintang. Pastinya keterangan ini juga diperkuat dengan cerita dari keluarga bahwa tak lama sebelum Sutan Hasyim wafat, Sutan Hasyim sering menjamu cicit-cicitnya untuk makan bersama di rumahnya. Saat itu salah seorang cucunya Buyung Kuning, cucunya dari Sutan Bagindo Hakim, diperintahkan oleh Sutan Hasyim untuk digendong oleh seorang hulubalangnya menuju rumahnya.
Saat itu sang cucu kesayangan berusia 9 tahunan, sehingga sudah tidak pantas lagi untuk digendong sebagai anak kecil. Kesimpulan dari keterangan ini, dapat diperkirakan jika Sutan Hasyim wafat di tahun 1917, karena sang cucu kesayangan lahir tahun 1908, saat perang Siti Hajir meletus di Lintau. Jika dinyatakan bahwa Sutan Hasyim wafat berusia 85 tahun, maka Sutan Hasyim diduga lahir tahun 1832, setahun sebelum Lintau ditaklukan untuk pertama kalinya pada tahun 1833. Jadi adalah wajar jika saat itu Sutang Hasyim diboyong oleh ayahnya ke Buo setelah ibunya wafat, karena saat itu Lintau masih dalam penguasaan pejuang paderi.
Sutan Hasyim dan juga kakak-kakaknya berada di Buo untuk selama setahun sebelum kemudian semua anggota keluarga kerajaan menyingkir ke Sumpur Kudus, setelah Lintau ditaklukan pada tahun 1833.
Dari sepenggal kisah tersebut dapat dimengerti kenapa Sutan Hasyim begabung dengan pejuang pidari. Selain ia kemudian harus mendukung perjuangan ayahnya Nan Dipertuan Sembahyang, Sutan Hasyim pasti juga melihat dengan mata kepalanya sendiri, akibat perang yang dilakukan oleh Belanda terhadap rakyat Lintau yang penuh dengan banyak penindasan dan penganiayaan. Sutan Hasyim tumbuh besar dalam masa peperangan dimana ia pasti wajib untuk bahu membahu bersama saudara-saudaranya yang lain.
Walaupung Bonjol telah ditaklukan oleh Belanda pada tahun 1837, namun perjuangan rakyat Minangkabau masih tetap berlanjut secara sporadis yang dipimpin oleh masing-masing kepala rakyat. Selama ini pengetahuan kita tentang perlawanan rakyat di Lintau hanya dipimpin oleh Saidi Muning Tuanku Lintau. Namun sejarah mencatat jika perlawanan tersebut hanya berlangsung sampai dengan tahun 1833, saat Lintau ditaklukan untuk pertama kalinya oleh Mayor de Quay dan Saidi Muning Tuanku Lintau menyingkir ke daerah Palalawan, Kampar Kiri dan dibunuh secara licik oleh Belanda di sana.
Setelah penaklukan Lintau tahun 1833 tidak berarti perlawanan rakyat Lintau berakhir seperti yang dicatat oleh Eerste Liutenant Hnedrick yang ditugaskan sebagai Komandan Militer untuk wilayah Lintau dan Koto Tujueh, yang melaporkan jika sang komandan masih direpotkan oleh perlawanan rakyat sampai dengan tahun 1855, dicatat adanya pertempuran antara Belanda dengan rakyat yang dipimpin oleh Nan Dipertuan Sembahyang bersama anak-anaknya.
Berdasarkan catatan yang sampaikan oleh E. Netscher, Residen Sumatera Barat saat itu , dalam bukunya yang berjudul “Aanteekeningen Omtrent Midden-Sumatera, Aan Officiele Bescheiden Ontleend”, yang terbit tahun 1880 (halaman 45-47), jelas dinyatakan bahwa pada tahun 1864, Sutan Hasyim pernah datang menghadap menghadap Residen untuk memintakan amnesti dari Pemerintah Belanda untuk atas nama ayahnya agar Rajo Adat di Buo dapat pulang ke Lintau, bermukim di Buo dan berjanji untuk tidak melakukan pemberontakan terhadap Belanda dan menyerang pos-pos Belanda di Lintau dan Koto Tujueh.
Dari catatan tersebut dapat disimpulkan jika Sutan Hasyim sudah menyerah kepada Belanda dan oleh Belanda Sutan Hasyim diberikan jabatan sebagai Penghulu Kepala untuk wilayah Lintau. Namun permintaan Sutan Hasyim tersebut ditolak mentah-mentah oleh Belanda dengan alasan bahwa Sutan Hasyim dan ayahnya pernah memimpin rakyat Lintau untuk memberontak kepada Belanda. Dalam pandangan Belanda akan lebih baik jika Nan Dipertuan Sembahyang hidup jauh dari rakyatnya dan mudah untuk mengawasi rakyat Lintau dengan menjadikan Sutan Hasyim sebagai Penghulu Kepala.
Dari sepotong cerita E. Netscher dan juga dapat kita temui pada laporan yang lain yang ditulis oleh de Stuers dan H.M. Lange ada beberapa pertempuran di Lintau yang dipimpin oleh Nan Dipertuan Sembahyang yang pastinya melibatkan Sutan Hasyim dan saudara-saudaranya yang lain dalam perlawanan tersebut. Pertempuran di Talang, Lubuk Jantan yang dicatat Liutenant Hendriks tahun 1850, mendesak pasukan Nan Dipertuan Sembahyang menyingkir ke Sumpur Kudus. Dalam pertempuran itu dicatat Nan Dipertuan Talang, anak Raja Ibadat terakhir gugur sebagai pejuang dan menurut cerita jenazahnya dimakamkan di Laras Air tidak jauh dari Bukit Sigulieng Boreh.Namun demikian perjuangan rakyat Lintau masih terus berlanjut sampai kemudian dinyatakan berakhir pada tahun 1855.
Sadar akan posisinya sebagai Penghulu Kepala di Lintau, Sutan Hasyim masih dapat menjamin untuk kepulangan beberapa anggota keluarganya menuju Lintau, termasuk dua orang anak sepupunya dari pihak bako pulang ke Buo, Tuan Gadih Puti Dina dan Sutan Sayidina Abbas Tuan Bujang Panji Alam. Kedua anak ini adalah cucu Tuanku Radin Sunnah, Yamtuan Besar Negeri Sembilan yang banyak membantu perjuangan rakyat Lintau melawan Belanda, melalui putera tertuanya Tunku Lintau Tuanku Besar Seri Menanti.
Sutan Hasyim tidak dapat berbuat apa-apa lagi membantu keluarganya, hatinya sedih teramat mendalam karena sang ayah tercinta tidak diijinkan Belanda untuk pulang ke kampung halamannya. Keberadaan makam Sutan Lembang Lawik dan Datuk Marajo di ustano rajo Cerenti, Kuantan Singingi, sudah membuktikan kepada kita bahwa kedua orang kakak Sutan Hasyim juga tidak diijinkan oleh Belanda untuk pulang ke Lintau setelah perang.
Tinggallah Sutan Hasyim seorang diri yang haya diangkat Belanda sebagai Penghulu Kepala, di mana kemudian rakyat Lintau menghormatinya dengan gelar Tuanku Tinggi. Masyarakat Lintau belumlah lupa jika Sutan Hasyim Tuanku Tinggi memiliki kantor resmi di balai-balai adat Nagari Balai Tangah. Dari sanalah Sutan Hasyim Tuanku Tinggi mengatur dan menjalankan tugasnya sebagai Penghulu Kepala untuk jangka waktu yang cukup lama.
Sutan Hasyim selama hidupnya ada menikah dengan beberapa orang wanita. Dicatat jika Sutan Hasyim menikah dengan Puti Saratika di Rumah Tabieng Lubuek Jantan dan memiliki dua orang anak yaitu Sutan Malinggam Aceh Datuk Simarajo Tuanku Mudo Nan Godang dan Puti Halimatus Sa’diyah Tuan Aciek Rumah Tabieng. Di Rumah Labueh Kumbueng Lubuk Jantan, Sutan Hasyim memiliki seorang anak perempuan yang dikenal dengan sebutan Tuo Labueh Kumbueng.
Sutan Hasyim juga menikah dengan Reno Hilir di Buo yang memberinya empat orang anak yaitu Sutan Ibadat, Puti Cahayo Rajo, Puti Mayang Taurai dan Puti Koroeng. Sutan Ibadat kemudian diangkat menjadi Khatib Mesjid di Buo dengan gelar Sutan Khatib. Di Tepi Selo Sutan Hasyim juga diketahui memiliki beberapa orang isteri dan anak. Sayangnya belum dicatat secara baik sehingga yang bisa disebutkan disini hanya satu orang anak Sutan Hasyim, yakni Sutan Bagindo Hakim Datuek Rajo Penghulu.
Pemberian nama Sutan Bagindo Hakim kepada anaknya di Tepi Selo, konon kabarnya karena Sutan Hasyim sedang berduka saat ia tidak bisa membawa ayahnya pulang ke Lintau. Dengan mengambil kata Hakim dari nama ayahnya Sultan Abdul Jalil Lukmanul Hakim Muningsyah, seakan-akan memintanya untuk selalu mengingat ayahnya yang jauh di pengasingan atau bisa jadi karena ada kemiripan wajah antara cucu dengan kakeknya.
Sekelumit kisah lama ini harus diangkat kembali, dipublikasikan kepada masyarakat agar tidak menjadi kisah yang memitologi.
Inilah sepotong kisah anak Lintau yang turut membela bangsa dan negerinya dari penjajah yang jauh dari negeri yang jauh. Kehormatan ayahnya adalah symbol kehormatan tanah airnya yang wajib dibela dengan taruhan apapun. Jika kemudian Sutan Hasyim Tuanku Tinggi harus menyerah kepada Belanda, bahkan kemudian diangkat menjadi Penghulu Kepala di Lintau, itu bukan berarti bahwa Sutan Hasyim Tuanku Tinggi adalah pengkhianat.
Kedudukan Sutan Hasyim sebagai Penghulu Kepala adalah jaminan buat seluruh anggota keluarganya yang diijinkan oleh Belanda untuk pulang ke Lintau setelah perang dinyatakan selesai. Kita dibuktikan dengan adanya beberapa negosiasi yang dilakukan oleh Sutan Hasyim sejak tahun 1861 demi untuk mendapatkan ijin agar ayahnya Rajo Adat di Buo bisa pulang ke Lintau. Jika kemudian Balanda hanya mengijinkan wanita dan anak-anak untuk pulang ke Lintau, itu sudah merupakan taktik Belanda untuk mencegah perlawanan rakyat timbul kembali.
Kembali ke Lintau dan menjadi Penghulu Kepala, itu artinya Sutan Hasyim Tuanku Tinggi adalah satu-satunya otoritas lokal tertinggi yang diakui Belanda. Itu sebabnya adalah wajar jika kemudian dua orang bule petinggi Belanda ini berkenan untuk berfoto bersama Sutan Hasyim Tuanku Tinggi di depan rumah adatnya yang artistik dan tidak ada duanya, untuk dapat kita lihat saat sekarang ini seperti gambar di atas.
Perhatikan seorang kakek tua yang duduk di serambi yang memakai saluek gadang dan baju beskap berwarna putih. Posisi gaya duduk sang kakek sangat aristokrat dengan sebuah tongkat yang memanggul tangan kanannya, seolah-olah memberitahukan kepada kita bahwa beliau adalah penguasa rumah adat itu. Nah sekarang, siapakah rakyat Lintau yang berani berfoto dan bergaya di serambi rumah milik seorang penghulu kepala di Lintau seperti yang kita lihat pada foto di atas? Sepintas wajah bujur sirih sang kakek tua itu mengingatkan kami kepada salah seorang cicitnya yang konon memang mirip dengan Sutan Hasyim Tuanku Tinggi.
Saat ini kita hanya dapat memandangi sehelai foto saja karena bangunan fisik rumah ini betul-betul sudah menjadi reruntuhan. Bangunan rumah adat ini masih dapat terlihat dengan jelas sampai dengan awal tahun 1970-an, setelah itu reruntuhannya hanya bermanfaat sebagai kayu bakar bagi para etek dan uwo yang mau memasak nasi di dapur. Sungguh sangat-sangat disayangkan kita sudah tidak bisa melihat lagi rumah adat ini seperti di Rumah Seberang Parik di Lubuk Jantan.
Walaupun hanya sehelai foto yang masih bisa kita lihat sekarang, maka dengan bekal foto inilah, mari kita bangun kembali rumah adat tercantik yang pernah dibuat orang di Lintau, yang fakta sejarah mengatakan bahwa rumah adat itu milik seorang bangsawan tinggi yang pernah berjasa buat tanah air yang dicintainya. Dialah Sutan Hasyim Tuanku Tinggi, Penghoeloe Kapala – in het Lintonsche.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


2 × three =